KEMASAN
BERPENYERAP ETILEN PADA BUAH
PISANG
MULI ( Musa paradisiaca L)
Oleh:
Chandra
Afrian
1214071022
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
HalamanPengesahan
JudulPenelitian : KEMASAN
BERPENYERAP ETILEN PADA BUAH PISANG
MULI ( Musa paradisiaca L)
IdentitasPengusul :
Nama : Arion Oktora
NPM
: 1214071015
Dosen PA :
Dwi Dian Novita S.T.P.,M.Si.
Mengetahui, Bandar
Lampug, 27 Oktober2014
Dosen
PA Pengusul,
Dwi Dian Novita S.T.P.,M.Si. Arion
Oktora
NIP.
198209242006042001 1214071015
I.PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pisang (Musa
paradisiaca L.) merupakan salah satu jenis buah tropis yang mempunyai
potensi cukup tinggi untuk dikelola. Pisang telah menjadi komoditas ekspor dan
impor di pasar internasional. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara yang
kemudian menyebar luas ke benua Afrika dan Amerika. Habitatnya adalah daerah
tropis yang beriklim basah, dan dapat tumbuh subur di dataran rendah maupun
tinggi.
Jenis-jenis tanaman pisang di Indonesia jumlahnya mencapai ratusan, yang secara garis besar jenis itu dapat dikelompokkan
menjadi tiga yaitu, pisang serat (Musa textiles Noe.), pisang hias
(Heliconia indica Lamk) dan pisang buah (Musa paradisiaca Linn.). Ketiga jenis pisang tersebut, yang mempunyai nilai
komersial tinggi dan daya serap pasar luas adalah jenis pisang buah (Musa
paradisiaca Linn.), sedangkan jenis-jenis yang lainnya mempunyai nilai
komersial rendah sehingga apabila diusahakan kurang memberi keuntungan.
Buah pisang mengandung
nilai gizi cukup tinggi sebagai sumber karbohidrat, vitamin dan mineral seperti
kalium, fosfor, besi, dan kalsium. Kalium diketahui bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, menjaga
kesehatan jantung dan membersihkan karbondioksida di dalam darah. Kandungan
kalium yang tinggi dapat memperlancar pengiriman oksigen ke otak dan membantu
keseimbangan cairan dalam tubuh. Buah pisang juga mengandung cukup banyak
vitamin A, sedikit vitamin B1 dan vitamin C. Kandungan vitamin A yang tinggi
dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap ISPA (infeksi saluran pernafasan),
kulit bersisik, dan kebutaan.
Wilayah Indonesia hampir
seluruhnya merupakan penghasil pisang, karena iklim Indonesia cocok untuk
pertumbuhan tanaman pisang. Hal ini tidak berarti bahwa semua wilayah Indonesia
merupakan sentra produksi tanaman pisang. Faktor lain yang menjadi penentu
sentra produksi adalah budidaya yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai bahan penyerap etilen pada
kemasan pisang muli untuk mempertahankan mutu buah pisang muli.
1.3 Manfaat
Penelitian
Sebagai
sumber informasi dalam upaya mempertahankan dan memperpanjang masa simpan buah
pisang muli
1.4 Hipotesa
Penelitian
-
Perbedaan jenis penyerap etilen
berpengaruh terhadap mutu buah pisang muli.
-
Lama penyimpanan berpengaruh terhadap
mutu buah pisang muli.
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pisang
2.1.1
Asal Muasal Tanaman Pisang
Pisang (Musa
paradisiaca L.) merupakan salah satu jenis buah tropis yang mempunyai
potensi cukup tinggi untuk dikelola. Pisang telah menjadi komoditas ekspor dan
impor di pasar internasional. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara yang
kemudian menyebar luas ke benua Afrika dan Amerika (Suyanti dan supriadi, 2008).
Habitatnya adalah daerah tropis yang beriklim basah, dan dapat tumbuh subur di
dataran rendah maupun tinggi.
2.1.2
Botani Tanaman Pisang
Menurut
ilmu tumbuhan-tumbuhan (botani), pisang diklasifikasikan ke dalam golongan
sebagai berikut:
Subdivisi : Angiospermae
Kelas :
Monokotyledonae
Ordo :
Scitaminae
Famili :
Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca Linn.
Tanaman pisang merupakan tanaman
semusim yang akan mati setelah sekali berbuah, namun sebelum berbuah tanaman
ini selalu melakukan regenerasi yaitu melalui tunas-tunas yang muncul pada
bonggolnya. Tunas anakan akan menggantikan tanaman induk dan siap menghasilkan
buah baru.
Tanaman pisang terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan
buah. Akarnya berupa akar serabut yang berpangkal pada umbi batang. Akar
terbanyak terdapat di bagian bawah tanah yang tumbuh sampai kedalaman 75 sampai
150 cm di dalam tanah. Akar yang berada di bagian samping umbi batang tumbuh ke
samping atau mendatar. Perkembangan akar samping bisa mencapai 4 sampai 5
meter. Batang pisang terletak dalam tanah berupa umbi batang. Batang yang
berdiri tegak di atas tanah merupakan batang semu yang terbentuk dari pelepah
daun panjang yang saling menelangkup dan menutupi dengan kuat dan kompak
sehingga dapat berdiri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu
berkisar antara 3,5 sampai 7,5 meter tergantung jenisnya. Daun
pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang dan bagian
bawah berlilin yang diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30
sampai 40 cm. Bunga pisang berkelamin satu, berumah satu dalam satu tandan.
Daun penumpu bunga berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung
berwarna merah tua, berlilin dan mudah rontok dengan panjang 10 sampai 25 cm.
2.1.3
Ekofisiologi Tanaman Pisang
Pisang termasuk tanaman yang mudah tumbuh, mudah
beradaptasi terhadap lingkungan tumbuh karena dapat dibudidayakan di dataran
rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) pada ketinggian ± 1.000 meter di atas
permukaan laut. Tanaman pisang dapat tumbuh optimal pada tipe iklim basah
sampai kering dengan curah hujan antara 1.400 mm dan 2.500 mm per tahun dan
merata sepanjang tahun. Tanaman pisang membutuhkan tanah yang subur dengan pH
antara 4,5 dan 7,5. Walaupun tidak menyukai tanah kering, pisang juga tidak
menghendaki air yang menggenang terus-menerus karena akar tanaman memerlukan
peredaran udara yang baik di dalam tanah.
Suhu merupakan faktor
utama untuk pertumbuhan tanaman pisang. Di sentra-sentra produksi utamanya,
suhu udara tidak pernah turun sampai di bawah 15° C dalam jangka waktu yang
cukup lama. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah sekitar 27° C, dan suhu
maksimumnya 38° C. Kebanyakan pisang tumbuh baik di lahan terbuka, tetapi
kelebihan penyinaran akan menyebabkan daunnya terbakar matahari (sunburn).
Dalam keadaan cuaca berawan atau di bawah naungan ringan, daur pertumbuhannya
sedikit panjang dan tandannya lebih kecil. Pisang sangat sensitif terhadap
angin kencang, karena angin yang terlalu kencang dapat merobek-robek daunnya,
menyebabkan distorsi tajuk dan dapat merobohkan pohonnya.
2.1.4
Jenis-Jenis Pisang
Jenis-jenis tanaman pisang di Indonesia jumlahnya mencapai ratusan, yang secara garis besar jenis itu dapat dikelompokkan
menjadi tiga yaitu, pisang serat (Musa textiles Noe.), pisang hias
(Heliconia indica Lamk) dan pisang buah (Musa paradisiaca Linn.). Ketiga jenis pisang tersebut, yang mempunyai nilai
komersial tinggi dan daya serap pasar luas adalah jenis pisang buah (Musa
paradisiaca Linn.), sedangkan jenis-jenis yang lainnya mempunyai nilai
komersial rendah sehingga apabila diusahakan kurang memberi keuntungan.
Pisang
muli berukuran relatif lebih kecil dari jenis pisang lain, besarnya hanya
sekitar 10cm sampai 15cm, pisang muli banyak dibudidayakan di lampung karena
itulah pisang muli dikenal juga sebagai pisang lampung.
2.1.5
Kandungan Buah Pisang
Buah
pisang mengandung nilai gizi cukup tinggi sebagai sumber karbohidrat, vitamin
dan mineral seperti kalium, fosfor, besi, dan kalsium. Kalium diketahui bermanfaat untuk menurunkan tekanan
darah, menjaga kesehatan jantung dan membersihkan karbondioksida di dalam
darah. Kandungan kalium yang tinggi dapat memperlancar pengiriman oksigen ke
otak dan membantu keseimbangan cairan dalam tubuh. Buah pisang juga mengandung
cukup banyak vitamin A, sedikit vitamin B1 dan vitamin C. Kandungan vitamin A
yang tinggi dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap ISPA (infeksi saluran
pernafasan), kulit bersisik, dan kebutaan.
Kandungan gula di dalam buah pisang merupakan gula buah atau fruktosa yang
mempunyai indeks glikemik rendah. Keunggulan lain dari buah pisang adalah
mengandung serat . Serat sangat
baik dikonsumsi untuk menurunkan berat badan. Serat juga mampu mencegah kanker
saluran pencernaan karena mampu mengikat zat karsinogen di dalam saluran
pencernaan.
2.1.6 Produksi Pisang
Wilayah Indonesia hampir seluruhnya merupakan penghasil pisang, karena iklim
Indonesia cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang. Hal ini tidak berarti bahwa
semua wilayah Indonesia merupakan sentra produksi tanaman pisang. Faktor lain
yang menjadi penentu sentra produksi adalah budidaya yang dilakukan oleh
masyarakat setempat.
2.2
Etilen
Etilen adalah suatu gas tanpa warna dengan sedikit berbau manis. Etilen
merupakan suatuhormon yang dihasilkan secara alami oleh tumbuhan dan merupakan
campuran yang paling sederhanayang mempengaruhi proses fisiologi pada tumbuhan.
Proses fisiologi pada tumbuhan antara lainperubahan warna kulit, susut bobot,
penurunan kekerasan, perubahan kadar gula dan lain-lain(Winarno dan Aman,
1979).
Etilen merupakan jenis senyawa tidak jenuh atau
memiliki ikatan rangkap yang dapat dihasilkan oleh jaringan tanaman pada waktu
tertentu dan pada suhu kamar etilen berbentuk gas.Senyawa
ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan penting dalam proses pertumbuhan
tanamandan pematangan hasil-hasil
pertanian. Etilen disebut hormon karena dapat memenuhi persyaratansebagai
hormon yang dihasilkan oleh tanaman, bersifat mobile dalam jaringan tanaman
danmerupakan senyawa organik. Pada tahun 1959 diketahui bahwa etilen tidak
hanya berperan dalamproses pematangan saja, tetapi juga berperan dalam mengatur
pertumbuhan tanaman (Winarno, 2002).
2.3
Penyerap Etilen
Penyerap yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kalium Permanganat
(KMnO4), Zeolit, dan Karbon Aktif yang dimasukan ke dalam
pembungkus. Terdapat beberapa macam senyawa penyerap etilen yang telah
digunakan seperti karbon aktifyang diberi Brom dan Selit dengan (KmnO4)
kemudian berkembang menjadi KMnO4 Vermikulit.Apabila KMnO4dimasukan
kedalam kemasan pisang maka dapat menambah umur simpan pisangselama 2 minggu.
Preparasi komersial zat penyerap etilen adalah “Purafil” (KMnO4
alkaslis dengan silikat) produksi Carbon Chemical Company ternyata mampu
menyerap seluruh C 2 H 4 yangdikeluarkan buah pisang yang disimpan dalam
kantong polietilen tertutup rapat (Pantastico, 1989).
Penyerap etilen lain yang dapat digunakan adalah kalium permanganat (KMnO4),
karbon aktifdan mineral-mineral lain yang dimasukkan ke dalam sachet. Bahan
yang paling banyak digunakanadalah kalium permanganat yang dijerapkan pada
silika gel. Permanganat akan mengoksidasi etilenmembentuk etanol dan asetat.
Bahan penyerap etilen ini mengandung 5% KMnO4 dan dimasukkan kedalam
sachet untuk mencegah keluarnya KMnO 4 karena KMnO 4 bersifat racun (Pantastico,
1989).
Etilen dapat dioksidasi oleh kalium permanganat menjadi mangandioksida,
kalium hidroksida,dan karbondioksida. Reaksi pemecahan etilen oleh kalium
permanganat dapatdilihat dari persamaan berikut:

(Ahvenainen, 2003).
2.4
Perubahan-Perubahan yang terjadi selama pematangan
dan penuaan
1. Perubahan
Warna
2. Perubahan
Tekstur
3. Perubahan
Karbohidrat
4. Perubahan
Berat
5. Perubahan
Vitamin C
6. Perubahan
Asam-Asam Organik
III.METEDOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan
Tempat
Penelitian ini
akan dilaksanakan pada bulan januari sampai bulan februari 2015 di laboratorium
Rekayasa Bioproses dan Pasca Panen Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah pisang muli dengan
tingkat kematangan fisiologis. Buah pisang muli didapat dari petani pisang muli
di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Kalium permanganat (KMnO4),
zeolit, dan karbon aktif. Serta reagensia yang digunakan adalah aquades, HPO3
3%, 2,6-diklorofenol indofenol.
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah aluminium foil,
oven, desikator, timbangan, teksturometer, gelas ukur, pipet tetes, pH meter,
tabung reaksi, styrofoam, kertas saring, polyetilen, tabung gas, Cosmoprotektor
tipe XPO – 318,
Cosmoprotektor tipe XP – 314, buret, erlenmeyer, spatula, dan
penangas air.
3.3 Metode
Penelitian
Penelitian ini
menggunakan metode Rancang Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2
faktor, yaitu :
Faktor I : jenis
penjerap etilen (A)
A1=
KMnO4
A2=
Zeolit
A3=
karbon Aktif
Faktor II :
Lama Penyimpanan
L1=
0 hari
L2=
5 hari
L3=
10 hari
L4=
15 hari
Banyaknya kombinasi perlakuan (Tc) adalah 3x4= 12 , maka jumlah
ulangan (n) adalah sebagai berikut:
Tc (n-1) ≥ 15
12 (n-1) ≥ 15
12 n-12 ≥ 15
12 n ≥ 27
n ≥ 2,25..........dibulatkan menjadi n=3
maka untuk ketelitian, dilakukan ulangan sebanyak 3 (tiga) kali.
3.4.Pelaksanaan
Penelitian
-
Disortasi pisang dan ditimbang beratnya sebanyak ± 300 gram.
-
Dimasukan kedalam styrofoam.
-
Bahan penjerap etilen dimasukan kedalam kertas saring yang dibentuk
menjadi bungkusan kecil.
-
Styrofoam ditutupdengan kemasan plastik dengan cara sebagai berikut :
pinggiran styrofoam diberi doubel tape 1 cm dan pada badan styrofoam digunakan
selotip 2,5 cm untuk meletakan film polyetilen. Film kemasantidak menutup
bagian bawah styrofoam. Untuk pengaturan gas O2 dan CO2
di dalam kemasan, dibuat 2 lubang pada salah satu sisi kemasan yang dihubungkan
dengan selang plastik.
-
Kemasan yang telah berisi produk disegel dengan lilin dan selang
penjepit.
-
Komposisi atmosfer di dalam kemasan di modifikasi dengan cara mengurangi
konsentrasi gas O2 menggunakan gas nitrogen hingga konsentrasinya mencapai 6 ±
2% O2 yang di ukur dengan menggunakan cosmoprotector tipe XPO-318,
sedangkan gas CO2 ditambahkan dari tabung gas CO2 hingga
konsentrasinya 4 ± 2% CO2 yang diukur dengan menggunakan
cosmoprotector tipe XP-314.
-
Disimpan pada suhu ruang.
-
Dilakukan pengamatan dalam selang waktu tertentu yaitu 0,5,10, dan 15
hari.
3.5 Pengamatan
dan Parameter Mutu
Pengamatan dan pengukuran data dilakukan
dengan cara analisa sesuai dengan parameter sebagai berikuta:
1. Penentuan Kadar Air
2. Susut Bobot
3. Penentuan Kadar Vitamin C
4. Uji Organoleptik Warna
5. Uji Tekstur dengan Teksturometer
6. Uji Tekstur secara Organoleptik
3.5.1 Penentuan
Kadar Air
-
Ditimbang contoh 5 gram dalam aluminium foil yang telah diketahui
beratnya.
-
Dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC selama 3 jam. Kemudian
didinginkan dalam desikator selam 15 menit, lalu di timbang.
-
Dipanaskan kembali dalam oven selam 30 menit, didinginkan kembali dalam
desikator selama 15 menit dan ditimbang. Perlakuan ini diulangi sampai di dapat
berat yang konstan.
-
Dihitung pengurangan berat yang merupakan
banyaknya air dalam bahan dengan perhitungan :
% Kadar air = Berat Awal – Berat Akhir
x 100%
Berat Awal
3.5.2 Penentuan
Susut Bobot
-
Ditimbang berat awal bahan sebelum perlakuan.
-
Ditimbang berat akhir bahan setelah perlakuan.
-
Dihitung pengurangan berat bahan sebagai susut bobot, dengan perhitungan
:
Susut bobot = Wa – Wb x
100%
Wa
Dimana Wa = berat awal bahan sebelum perlakuan
Wb = berat akhir bahan setelah perlakuan
Untuk susut bobot 0 hari, angka 0
digantidengan cara data ditransformasikan menggunakan persamaan (y + 0,5)0,5
(Steel dan Torrie, 1989).
3.5.3 Penentuan
Kadar Vitamin C
-
Dihancurkan 5 gram sampel
-
Dimaserasikan dengan 25 ml larutan 3% HPO3
-
Disentrifus pada 4000 rpm selama 15menit dan kemudian disaring
-
Dipipet 5ml filtrat
-
Dibuat larutan pencelup (dye solution) dari 50 gram 2,6-diklorofenol
indofenol didalam aquades panas yang mengandung 42 mg sodium bikarbonat
-
Dititrasi dengan larutan pencelup (dye solution) hingga terbentuk warna
merah jambu
-
Dihitung kadar vitamin C
Kadar vitamin C (mg/100 gram bahan) = T
x F x FP x 100
W
Dimana
: T = jumlah ml titrasi
F = faktor dye (mg/ml)
FP = faktor pengenceran
W = berat sampel (g)
(Apriantono, et al., 1989)
3.5.4 Uji
Organoleptik Warna (Skor)
Penentuan tingkat kematang buah pisang
muli dilakukan dengan kriteria warna kulit luar berdasarkan tingkat yang paling
musa (hijau) sampai tingkat yang paling matang (kuning bercak coklat),
berdasarkan kadar Color Chart Classification berikut :
Nilai numerik 1 – 8 untuk menunjukan
warna buah pisang muli pada berbagai tingkat kematangan
skor
|
Warna kulit pisang
|
1
|
Warna hijau, keras belum matang
|
2
|
Warna kulit hijau tanda kuning sedikit
|
3
|
Warna kulit hijau lebih banyak daripada
kuning
|
4
|
Warna kulit kuning lebih banyak
daripada warna hijau
|
5
|
Warna kulit kuning dengan ujung
berwarna hijau
|
6
|
Warna kulit kuning penuh
|
7
|
Warna kulit kuning dengan sedikit
bercak coklat
|
8
|
Bercak coklat lebih melebar/banyak
|
(Satuhu dan Supriyadi, 2000)
3.5.5 Uji Tekstur
dengan Teksturometer (g/mm2)
-
Diambil bahan, diletakan pada teksturometer
-
Diukur tekstur bahan pada bagian pangkal, tengah, dan ujungnya
-
Dihitung tekstur rata-rata dengan menggunakan rumus :

x / 10
dimana x = nilai rata-rata pengukuran
pada tiga tempat yang berbeda dari buah pisang
250 = berat beban teksturometer (g)
10 = pembacaan skala pada teksturometer
(1 cm = 10 mm)
(Muchtadi, 1997)
3.5.6 Uji
Tekstur (Organoleptik) (Skor)
-
Diambil buah pisang muli dan ditekan dengan jari tangan
-
Diberi skala kekerasan tekstur pisang muli :
Skala uji hedonik organoleptik tekstur
(numerik)
Skala Hedonik
Skala Numerik
|
Sangat Keras
4
Keras
3
Agak Keras
2
Tidak Keras
1
|
(Soekarto, 1981)
3.6 Skema
Penelitian
![]() |
|
|


|
|


|

|

|

|

|

|
DAFTAR PUSTAKA
Apriantono, A., D. Fardias, N.L. Puspitasari,
Sedarwati dan S. Budiyantono, 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan
IPB-Press, Bogor.
Muchtadi, T.R, 1997. Petunjuk
Laboratorium Teknologi Proses Pengolahan Pangan IPB-press, Bogor.
Pantastico,E.R.B., 1987. Teknologi Pasca
Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayuran Tropika dan
Subtropika. Terjemahan Kamariyani. UGM-press, Yogyakarta.
Satuhu, S. dan A. Supriyadi, 2000.
Pisang, Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soekarto, S.T., 1981. Penilaian
Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan. IPB-Press, Bogor.
Steel, R.G.D and J.H. Torrie, 1960.
Principles and Procedures of Statistics. McGraw-Hill Book Company, New York.
Suyanti dan A. Supriyadi, 2008. Pisang,
Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya, Jakarta.
Winarno, F.G. dan M. Aman,1981. Fisiologi
Lepas Panen. Sastra Hudaya, Jakarta.
No comments:
Post a Comment